80% Lingkungan sangat mempengaruhi kita dan 60% pengalaman sangat membantu kita. Itu artinya kita harus melakukan tindakan yang nyata atau praktek untuk meningkatkan kemampuan kita. Dan bila belum terbiasa, maka lakukan 40 hari berturut-turut. Awal merupakan sulit. Namun kita bisa karena terbiasa...
Ganbatte!
Luruskan orientasimu!
Saling mengingatlah sesama teman
Satukan mimpi kita! Yosh!
Tampilkan postingan dengan label School. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label School. Tampilkan semua postingan

Budaya Buruk yang Tercipta di Sekolah

Dari sekolah, anak Indonesia sudah 'dilatih' untuk tidak menghargai orang lain. Mengapa?
Semisal menyontek. Mungkin sudah menjadi kebiasaan kita anak Indonesia bahkan sudah menjadi budaya turun temurun di sekolah. Kalau saya pernah menonton di TV, menyontek itu budaya calon koruptor. Ternyata tidak hanya itu saja. Menyontek juga wujud kita kepada teman terhadap tidak pentingnya sebuah penghargaan. Ada yang sudah terbiasa hingga merelakan jerih payahnya dicontek orang, namun tidak banyak yang menahan sakit hati karena teman-temannya dengan santai menyalin hasil kerjanya.
Ada pun yang pelit contekkan, maka Ia dikucilkan. Bukankah itu hal yang sangat bodoh????
Mengapa kita harus mengucilkannya???Itu hak dia mau memberi contekan atau tidak! Yang kerja dia! kenapa kita yang ngotot?! Yang ada, kita bodoh! untuk apa kita marah??? Namanya saja belajar, bukan menyontek! itu pesan yang sering didengungkan di sekolah.
Yang lebih parahnya lagi, saat jelang UN seperti yang pernah terjadi di bangku SMA, guru-guru malah menyuruh murid yang pintar untuk tidak pelit saat UN!
Guru macam apa itu????Bukankah guru itu teladan kita di sekolah???
Yang namanya ujian, seharusnya dilarang keras menyontek!
Jelas saja kebanyakan dari kita tidak menhormati pahlawan....TEMAN SENDIRI SAJA TIDAK KITA HARGAI!!!
Menyontek itu sama saja tidak menghargai teman! Tidak menghargai hasil kerja teman!
Ada pun teman yang memberi contekan, dia malah membodoh-bodohi temannya karena membiarkan temnnya malas. Akankah kita akan menjadi menjadi negara maju sementara budaya saling menghargai saja tidak ada!
Ini Fakta. Seorang Bapak tidak mampu membiayai wisuda anaknya. Awalnya, Bapak itu dan Wali Kelas bicara baik-baik saja di ruang guru. Sang Bapak bicara apa adanya bahwa Ia memang tidak punya uang. Tapi, wali kelas itu tetap kekeuh agar Sang Bapak segera membayar. Hingga terlontar di mulutnya, "Saya tidak peduli Bapak dapat uang dari mana!!!" Tentu Bapak itu tersinggung. Barulah Bapak itu mulai berdebat dengan Wali kelas. Wali kelas itu bicara seakan-akan Ia yang punya sekolah, padahal itu sekolah Negeri. Dia sudah seperti Rentenir. "Berarti Ibu bisa saja menyuruh saya jadi maling, dong?"lawan si Bapak yang mulai tegas. Semua guru di ruang guru itu melihat perdebatan mereka. Hingga wali kelas lelah dan terpojok. Tidak sampai di situ, saat sang anak ke ruang guru, saat itu ayahnya sudah pulang, sang anak malah seperti dihina salah seorang guru yang menonton perdebatan antara ayahnya dan wali kelasnya. Guru itu bilang,"masak bayar seratus perbulan saja tidak bisa?!" Terdengar sombong. Ayahnya benar-benar tidak mampu, mengapa musti dipaksa???!!!
Ini fakta dari salah seorang teman. Aku benar-benar miris. Guru-guru itu sekan sangat mengharapkan uang-uang dari wali murid. Padahal meraka digaji pemerintah. Tiada bersyukurnya. Orang susah pun dijepit juga. Jangan salah, bila seorang murid berlaku negatif, karena guru nya sudah mengajari. Buah tidak jatuh dari pohonnya. Guru kencing berdiri, Murid kencing berlari-lari. Pepatah-pepatah itu masih berlaku!!!

Bukan Jiwa Guru

Sebagai seorang yang dijadikan contoh, bukankah kita harus mengajarkan yang baik-baik pada junior atau murid-murid kita??????????????
Tapi, hal itu sangat jauh berbeda dari guru yang satu ini. Tentu aku enggan menyebutkan siapa dan mengajar dimana guru berkumis ini.
Yang jelas, Ia telah telah membuat suatu kesalahan besar, bagiku.
Waktu itu aku dan teman-temanku sedang latihan untuk ujian praktik Seni Budaya. Latihannya dilakukan di sekolah. Tiba-tiba ada guru itu datang dengan leluconnya yang membuatku tidaklah lucu. Tidak hanya aku, banyak murid yang tidak menyukainya. Karena mulutnya tidak ada remnya.
Ketika itu, guru ini sedang berbincang-bincang hingga menyambung ke daerah murid-muridnya. Ia menanyai satu per satu muridnya. Sesekali, Ia memuji salah satu asal daerah muridnya dan membandingkan dengan daerah asalku dengan memburuk-burukkannya. Aku hanya sabar. Aku diam.
Entah mengapa aku merasa harus siap-siap bila Ia bertanya darimana aku berasal. Ternyata benar saja. Ia bertanya darimana asal daerahku. Aku jawab Sumatera. Ketika Ia bertanya dimana, ku jawab, Barat. Guruku itu pun menjawab Padang. Langsung Ia menampakkan wajah masamnya saat Ia menyebut Padang. "Oh Padang. Pantes pelit". Tentu aku tersinggung dan kaget. Karena dari tadi aku hanya membisu memperhatikan guru itu. Aku juga jarang berkomunikasi banyak dengan guru itu. Meminta pertolonganku saja juga Ia tidak pernah. Mengapa Ia menyebut "pantes pelit"??? Aku kesal. Aku merasa tidak bersalah. Lantas, aku menyahutnya dengan mata yang menyudut,"emang saya pernah kasih bapak apa?kok sampai saya dibilang pelit?". Aku yakin kata-kata ku ini pedas. Teman-temanku hening melihat kami. "Ya, kamu emang nggak kasih saya apa-apa. Tapi umumnya orang padang itu pelit,"jawab guru itu dengan kesal. Aku sudah terlalu kesal. Aku tidak melanjutkan perdebatan ini. Entah mengapa aku harus menghormati guru ini walau guru ini tidak layak ditiru.
Kenapa aku bilang "tidak layak ditiru?"
Karena Ia memberi contoh yang amat sangat tidak baik pada murid-muridnya. Ia menjelek-jelekkan salah satu daerah yang ada di Indonesia. Sementara di Indonesia ini, masih banyak orang-orang yang perang hanya karena suku. Seharusnya Ia mendamaikannya. Aku tidak membayangkan bagaimana susahnya  pahlawan-pahlawan dulu memperjuangkan Indonesia ini dengan berusaha akur antar suku, agama, dan ras untuk meraih kemerdekaan. Apa jadinya bila Indonesia terpecah belah kedepannya nanti?Hmm...siap-siap saja dijajah. Jangankan masa depan. Sekarang saja tanpa kita sadari kita dijajah secara ekonomi.
Ingat, Meraih itu mudah. Tapi Mempertahankan adalah sulit. Seberapa tahankah Indonesia dengan berbagai suku, agama dll?
Kita harus mempertahankan Indonesia ini. Butuh guru yang baik agar bangsa ini menjadi baik. Bukan guru yang memecah-belah murid-muridnya yang dari berbagai macam perbedaan.
Perbedaan itu Indah. Dan Perbedaan adalah Ruang untuk Pendewasaan Diri. Untuk itu, Hargailah segala perbedaan di Negeri ini!!!

Tidak Pacaran = Belum Pernah Suka??


Tadi aku belajar di sekolah (ya iyalah!)
Nah, Pak Guru bilang kalau kita jangan memvonis teman kita yang pacaran karena setiap manusia pasti tidak luput dari dosa...
Yah...memang sih...
Tapi, ujung-ujungnya beliau bicara yang tidak enak.
Katanya, kalau pun ada orang yang menentang kegiatan pacaran itu berarti dia belum pernah suka sama orang. He...tentu aku menentang hal itu di dalam hati. Kan bisa saja ada orang yang pernah suka, tapi ia berprinsip untuk tidak pacaran. Semisal, aku deh...
Bukannya sok suci dan sok sempurna. Tapi sejak SMP, aku sudah berprinsip demikian. Melihat tema-teman SMP yang tidak luput dari air mata karena masalah cinta. Terlebih menurutku, pacaran itu suatu kegiatan yang mubazir alias buang-buang waktu. Tapi sih, itu hak kalian kalau kalian tidak seperndapat dengan juga tidak apa-apa. Ini kan negara demokrasi, jadi boleh saja berpendapat lain.
Kalau menurut kalian, pacaran itu perlu, ya sudah...
Aku hanya ingin mengisi waktu ku dengan hobiku yang lumayan banyak.

Tapi, ngomong-ngomong saya jadi curhat ya di sisni...???
Yah...sekalian curhat juga deh...
^_^V

Dirgahayu Terakhir

Pagi ini aku berbahagia sekali. Karena hari ini adalah dirgahayu Indonesiaku tercinta. Walaupun Ramadan, aku tetap bersemangat. Karena memenag menurutku, dirgahayu Indonesia lebih mantap di bulan Ramadan. Karena mereka pasti akan lebih meningkatkan beribadahnya daripada pesta pora. Dikarenakan pagi ini ada upacara bendera, aku berusaha mengenyangkan perut agar bisa mengikuti upacara hingga selesai. Karena hari ini jauh lebih berharga daripada hari lahirku selain hari Sumpah Pemuda. Bahkan ingin rasanya ikut ekskul paskibra di sekolah. Tapi keadaan fisik yang tidak memungkinkan, jadi aku hanya menjadi peserta upacara saja.

Namun ada yang menjengkelkan di hatiku saat berkumpul dengan teman-teman ketika menunggu upacara dimulai. Teman-temanku bercerita tentang ibu mereka yang katanya lebih baik tidak usah sekolah. Memang sih, hari ini hanya upacara saja dan langsung pulang ke rumah tanpa belajar dahulu di sekolah. Tapi ini kan hari besar. Bahkan menurutku, hari terbesar dalam sejarah Indonesia.
"Udah sih lu gak usah masuk aja. ngotor-ngotorin baju aja!" begitulah kata salah seorang temanku yang memperagakan ibunya berbicara kepadanya. Mendengar hal itu, aku langsung tesinggung. Karena pada 17 Agustus 1945-lah kita bisa seperti sekarang ini. Benar-benar keterlaluan. Masak hanya satu hari saja kita gunakan baju sekolah untuk hari besar Nasional ini, kita keberatan?
Hmmm...

Tapi yah...kalau aku jadi mereka, aku akan ceramahi emak mereka. Biar mereka tahu dan sadar bahwa kita harus mnghargai hari Indah ini!

Baiklah kita berlaih topik. Tapi bukan berarti ini berita. Saya hanya ingin melanjutkan cerita saya tadi ke cerita seelanjutnya di lapangan sekolah.
Nah, upacaranya pun dimulai.
Ih! Subhanallah...anggota paskibranya pada ganteng dan cantik sekali dengan pakaian mereka. Kadang aku berkhayal kalau aku itu mereka. He...
Namun, ketika mendengar anggota paduan suara bernyanyi, suaranya tidak bersemangat. Andai aku tidak batuk, aku akan ikut bernyanyi. Dan baru kali ini aku berkomentar. Dan ku lihat-lihat dari awal hingga akhir, semua peserta serius menjalani upacaranya walaupun ada beberapa yang berbisik bahkan meledek pembina upacara yang sedang berbicara di depan peserta upacara. Kesal jadinya. Tapi aku berusaha untuk terbawa nikmat.
Dan Insya Allah, ini merupakan upacara dirgahayu Indonesia terakhirku selama aku duduk di bangku sekolah. Kira-kira kalau di kampus nanti ada upacara bendera tidak ya?He


Haruskah Anak Rohis?

Aku mau mengkritik nih, emang pelajaran agama islam itu harus di ketahui aak rohis saja ya, kalau bukan anak rohis walau muslim, tidak apa-apa tidak tau mengenai Islam?
Emang Islam itu punya anak rohis ya?Kalau anak bukan anak Rohis tapi dia muslim, tidak wajib tahu?Ya ampun!!!sempit amat sih otaknya!
Waktu itu guru agamaku bertanya kapan Nabi Muhammad lahir. Eh, ada anak yang bilang, "tuh anak rohis, tuh!" Otakku langsung bekerja. Iya sih, kan aneh, ikut Rohis tapi tidak tahu kapan Rasulullag lahir. Tapi emang dasar otakku rada-rada lola, aku baru sadar. Kenapa harus anak Rohis yang menjawab?Bukannya yang bicara, 'tuh anak rohis, tuh!' itu muslim juga?
Hoh...jadi begitu...Pelajaran Agama Islam (PAI) itu tugas anak Rohis? Lalu tugas anak muslim yang bukan Rohis apa dong?Emang di Kitabullah tertulis kalau PAI itu untuk yang Rohis? Ya Ampun....
Nih, perhatikan ya, selama kita di kelas, pelajaran apapun itu, itu adalah pelajaran yang wajib kita pelajari. Apalagi Pelajaran Agama. Tiap Muslim itu harus faham dengan PAI-nya. Minimal teorinya deh khusus buat anak pemalas. Tapi kalau anak Rajin, ya sekalian prakyeknya. BUkan berarti PAI itu pelajarannya anak Rohis!
Enak ajah!
Trus anak Muslim Bukan Rohis belajar apa dong???????

Dimulai dari Bayar Kas

Aku sempat berpikir, mengapa bisa ya Negara Jepang bisa sebegitu kompaknya antara Pemerintah dan warga. Sangat jauh berbeda dengan Indonesia.Yang ada justru pemerintah dan warga selalu tidak sependapat. Namun kalau aku berpikir secara sederhana, semua ini pasti bersumber dari yang terkecil. Sederhanaya, dimulai dari keuangan kelas di sekolah.
Keseringan, kita selalu mengulur waktu dengan masalah yang satu ini, yaitu membayar uang kas. Padahal uang itu sendiri untuk keperluan bersama. Beda cerita, kalau memang sedang tidak mempunyai uang karena dihabiskan untuk jajan. Tapi, sebisa mungkin, kita harus rajin membayar uang. Karena kalau tidak, kita jadi akan kesulitan membayar uangnya karena sudah menombok. Hal ini saja sudah menunjukkan bahwa kita sudah tidak kompak. Dari kelas saja, tidak kompak, apalagi dengan sekolah.
Bukankah itu suatu perbuatan yang tidak disiplin bila kita sering menunda-nunda membayar uang kas yang hanya Rp.2000 per minggunya?
Kalau untuk membayar diri sendiri saja pelit, apalagi membayar atau membantu orang lain.
Memang, tidak tidak semua yang begitu. Tapi mayoritas adalah yang begitu!
Jadi mulai sekarang, kita harus menekankan diri sendiri bahwa kita harus disiplin dan memulai menjaga kesolidaritas yang positif, bukan yang negatif atau malah nepotisme.

Hal ini saya ceritakan, karena saya melihat teman-teman saya yang malas bayar uang kas tapi kalau jajan paling kencang sekalipun tidak lapar. Hm..

Free Clothing in Schools

If we look, there is a soap opera featuring the story of school children. And school children, there are free to wear the same clothing like vests for outside of school seragma clothes, which as the clothes 'official' their gang. Which makes me think, whether it is allowed by the school?
But if I see friends of the leaders, they were dressed very neatly. Of course I got to thinking, 'wow this soap opera is not good in samples of schoolchildren, ya! deserve just a lot of friends who sometimes wear vests. "So what's wrong with school clothes. Is not using school uniforms, it would be nice? so that no one distinguish each other. All equally. If there are free to use it, it seems that they are individually. Except for use after school.

Sometimes a lot of soap opera set in school, we should note the way dressed. Because there are many which we may not practice in our schools. Because the school is a formal institution, not the house itself is completely free to dress. Of course we know, the clothes we wear under the terms of the school during school and not according to the provisions of soap operas.

Do not use school uniforms for the unification of the nation?

Empty Reasons Against Lazy Learning

I once asked my friend, why do not you learn it anyway? They said that fear arrogant. Because people are learning, tend to be smart. And most people are smart it will menajdi arrogant. I was immediately stunned. If according to the experience I had, indeed hell, many people who have a surplus, and he is a snob. But that is not absolute. And in my opinion, assuming them that is a mistake. Not necessarily that intelligent people would be proud. Depending on how the person. If people have faith, surely He does not dare to brag. For all the advantages that he had were the Lord's.
Until now, we acknowledge that the activities of cheating, is not applicable right. Moreover, besides being lazy, but also afraid arrogant. If we do not want arrogant, early on is we have faith and surrender to Him.
In a hadith states, that we must demand the highest science. Moreover, if we continue to depend on others, when we could be helpful to others, Is not, we can use our abilities to teach the people not so smart?
Best man is a benefit to others. If we are intelligent people, surely we would be useful if we channeled our science. And that we will get a reward from Him.
Starting today, there is no reason for us to get lazy with the event of cheating. From this day also, we must rise. Was not the obligation of a student is learning? By learning, we can show our love to Indonesia.

About Me

Foto Saya
Andeke Parsi
Lihat profil lengkapku