80% Lingkungan sangat mempengaruhi kita dan 60% pengalaman sangat membantu kita. Itu artinya kita harus melakukan tindakan yang nyata atau praktek untuk meningkatkan kemampuan kita. Dan bila belum terbiasa, maka lakukan 40 hari berturut-turut. Awal merupakan sulit. Namun kita bisa karena terbiasa...
Ganbatte!
Luruskan orientasimu!
Saling mengingatlah sesama teman
Satukan mimpi kita! Yosh!
Tampilkan postingan dengan label Environment. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Environment. Tampilkan semua postingan

Anak Muda Banyak Cobaan

Tidak sedikit akhwat yang pacaran. Tau akhwat??? Katanya sih perempuan yang alim-alim gitu, ya pokoknya memahami agama deh. Kalau menurutku, mereka itu spesies indah kayak bidadari. Spesies??? Hehehehe...ok ok ampun ampun...
Baiklah, aku menulis ini aku hanya gerget aja sama seseorang yang dia ini adalah seorang akhwat. Iya, itu hak dia. Hak pacaran maksudnya. Aku ngerti Eh, jangan salah aku juga pernah menyukai lawan jenis. Jangan kira aku abnormal -_- hihihi...
Tapi, aku benar-benar miris. Baiklah, sebut saja nama mawar atau miwir. Miwir aja kali ya biar mantep. Loh???
Jadi, si Miwir ini hijrah dari cewek berjilbab yang agak centil ke menjadi akhwat sejak kenal rohis di SMA. Dia pun paham kalau pacaran gak boleh. Tapi, begitu lulus SMA, dia malah...ya katanya sih gak pacaran...tapi dia dengan laki-laki yang sering ia temui ini memiliki perasaan yang sama dan menjalin hubungan tanpa status. Ibunya yang bukan dari keluarga agamis tadinya memahami agama perlahan dari si Miwir. Ia cenderung sabar bila si Miwir ini berulah. Tapi, karena sering ketemuan diam-diam dengan si cowok, ibunya mulai menyebut, "katanya gak boleh pacaran???" Pasalnya Miwir menyebut pacaran itu gak boleh.
Okelah, mengenai perasaan, mungkin ada hal yang membuat ia pacaran. Ini tentang perasaan. Mungkin ia lama menahan diri untuk tidak pacaran. Karena tak tahan, ia lepas sedikit-sedikit pemahamannya itu. Dan mulai melakukan hubungan status yang intinya sama saja dengan pacaran.
Sesuai lagu Haji Rhoma Irama, darah muda darahnya para remaja. Namanya juga remaja. Ya, aku pun mulai paham kalau remaja itu ternyata banyak cobaannya. Dan aku mulai paham ternyata masa mudalah tempat banyak mengambil banyak pahala karena jiwa remaja yang cenderung labil. Karena masa muda ternyata banyak cobaan terutama bicara hati...ceileeh....
Cinta emang fitrah...tapi bukan berarti kita bisa salah kaprah...
hati-hati jeng. mas...mau secantik apa pun pacarmu, seganteng apa pun juga, yang namanya pacaran tetaplah gak boleh.
Ya aku tahu ini tentang perasaan. Masa muda itu perasaannya emang gak kekontrol. Namanya juga darah muda. Anak muda emang banyak cobaannya, maka harus banyak bersabar dan mendekatkan diri pada-Nya. Karena ntar masa muda kita bakal ditanyain di alam sana. KIta cuma nunggu giliran buat diinterogasi aja di alam sana. Jangan sia-siakan waktumu dan jangan sia-saiakan nyawamu hanya untuk yang gak bermanfaat. Tiap hembus nafasmu bakal dikepoin!!!

Makanya, hobby itu paling jempol buat menangkal terjadinya pacaran. Kalau ditegor emak kan, "Hayooloh, katanya gak boleh pacaran???" mau ngomong apa coba. Mulut dan tindakan gak sesuai sih.
Sebagai anak muda, cobalah berpikir kritis dan semoga istiqomah dalam menjaga diri dari yang namanya pacaran. Inget! Kita anak muda, udah pasti banyak cobaan...Nah, itu ladang amal buat kita. Ok!

JDrama VS Sinetron

Sejak ada statsiun TV ono, statsiun TV lain lebih diabaikan. Dan gara-gara dangdut mendunia, ortu jadi lupa nonton sinetron. Atau mereka bosen?
Entahlah, yang jelas saya terbebas dari tontonan yang itu-itu aja itu...
Kawin, cerai, selingkuh, keguguran, ibu tiri yang jahat, gak jauh-jauuh dari itu temanya...sampai saya berpikir, ini apa gak punya ide lain apa ya? kok pada latahan gini TV nya? di TV ini anaknya belum ketemu, eh TV ono, anaknya ngilang juga... gak kaya banget deh...
Makanya saya lebih antusias dengan tayangan luar negeri. Entah saya pernah membahasa ini atau belum, tapi saya mungkin akan membahasnya lagi. Betapa tidak ada banyak tayangan sana yang bagus, mendidik dan tidak itu-itu aja. Banyak pilihan gitu loh. Dulu, aku suka film bule, bahkan drama bule pun, sekalian belajar bahasa inggris...hihihi...
tapi, minat saya pun bergeser, berhubung saya JLover, saya jadi suka JLover. Awalnya memang karena aktorna. Tapi, itu cuma pemanis doang. Selanjutnya, saya mencari yang genre dan ceritanya yang bagus. Ada banyak yang bagus. Ya, ada banyak yang bagus dari jepang. Terlebih jepang itu orang timur, sama kayak Indonesia. Jangan liat jeleknya doang tentang JAV nya, tapi banyak kok tayangan yang mendidik. Malah sinetron kalah banget. Padahal kalau mau bagus, kita kan bisa ambil  cerita di novel-novel yang bertebaran di toko buku, kayak JDrama yang mereka gak cuma diambil dai novel, tapi dari komik.
Namun, ada aja yang menjengkelkan salah kaprah tentangku. Saat aku menceritakan jepang, ada seorang teman yang katanya cinta Indonesia. Sontak aku berkoar-koar, buktinya apa cinta Indonesia??? Buang sampah sembarangan???
Aku menjadi JLover, bukan karena aktor/aktrisnya yang cantik/tampan. Tapi emang yang aku sukai itu jepangnya. Kan banyak yang kita tiru dari jepang. Terlebih kita pernah menjadi Macan Asia. Tapi sekarang, jepang yang merebut julukan itu. Apa gak sakit hati apa? Sakit sama jepang sih nggak, tapi sa,a negeri sendiri. Kadang nyesek kalau mikirin nih negeri. Kurang apa coba Indonesia??? Tapi kenapa kita gak bisa maju??? Aturan, jepang yang jadi Macan Asia dijadiin cambuk buat kita. Aku yang jadi JLover, perlu ketahui aja, semakin aku cinta jepang, semakin aku bertambah cinta pada negeri ini. Tidak usah peduliin orang sekitar, kalau kita mau majuin nih negeri, ya terus aja jalan. Dengan banyak yang bisa ditiru dari jepang, seharusnya kita nyadar diri. Salah satu yang bagus dari jepang itu ya JDramanya malah banyak mendidik dan gak monoton.
Jepang itu banyak mimpinya, makanya banyak usahanya. Gak kayakkita, yang baru bermimpi dikit, udah diginii, "alah...ingimpi luh!" Mimpi kita yang tadinya tinggi, langsung jatuh begitu dijatuhkan dengankalimat seperti itu yang sebagian datang dari mulut orangtua. "Udahlah, nak. Hidup tuh realistis aja..."
Hemmm, realistis sih iya. Kan udah tau, mengkahayl itu gak boleh, tapi kalau diiringi usaha keras, kenapa malah dijatuhkan dengan kalimat menjatuhkan???
Well, ini sebenarnya mau membahas JDrama VS Sinetron atau apa sih??? Ya, seperti kata saya tadi, saya lebih memilih JDrama kalau memang itu banyak memberi manfaat bagi saya. Karena saya tidak mau menyia-nyiakan waktu saya. OK!

Perempuan Ber-otak

Aku masih normal. Aku perempuan.Tidak pernah sama sekali aku menyukai pada sesama jenis. Laknat Tuhan menjadi salah satu alasanku.Namun  di sini aku tidak bicara tentang agama atau aku tidak bermaksud untuk bertausyiah. Hanya saja, aku merasa geli.
Jangankan laki - laki, aku yakin kalau perempuan yang sensitif/kritis/sehat pikirannya akan langsung melirik perempuan lain yang berpakaian yang jelas- jelas tidak layak dipakai di depan umum. Ini tentang tadi di mall. Ya, aku tahu, ini sudah menjadi kebiasaan bahkan sudah gayanya begitu di zaman meuju akhir era waktu. Pakaiannya menyeleneh. Bukan ghibah. Tapi aku merasa, ah entahlah...
Wajar saja pemerkosaan merajalela. Kebanyakan yang tampak adalah kesalahan perempuannya. Yang paling geli adalah yang ku dengar di salah satu radio. Seorang pendengar menelpon ke radio tersebut, temanya tentang harapan rakyat kepada presiden terpilih. Nah, pendengar ini menginginkan supaya perempuan lebih dilindungi lagi. Ini jelas aku setuju. Karena memang banyak yang menganggap perempuan rendah. Tapi titik permasalahannya adalah tentang pakaian. Pendengar yang merupakan perempuan ini menginginkan supaya laki - laki tidak jelalatan dan 'gatal' matanya saat melihat perempuan menggunakan rok mini. Karena menurutnya, itu hak perempuan, perempuan punya cara untuk menunjukkan bahwa ia cantik dan perempuan punya banyak cara untuk berekspresi. Tetapi, cara nya ini maksudnya cara apa??? Jelas, permintaannya terdengar 'senonoh'. Rok mini, mendengarnya saja sudah 'porno'. Laki - laki normal pasti menyukai perempuan. Kelemahan perempuan adalah auratnya. Bila perempuan menggunakan rok mini, sudah pasti banyak yang melirik. Weleh - weleh!
Iya, benar. Kita memang punya banyak cara untuk berekspresi, tapi ekspresi harus kita imbangi otak. Kita manusia. Dan hanya manusia yang otaknya berfungsi dengan baik dan optimal. Kalau kita hanya mengandalkan selera tanpa seimbangi pikiran dan otak, itu seakan mubazir kalau kita punya otak. Kalau mau berekspresi, jadilah perempuan yang punya otak juga.
Bicara otak, bukan tentang kepintaran. Tapi tentang kekritisan dan kesensitifan kita terhadap lingkungan. Ini tentang kepekaan kita. Sudah sewajarnya kan kalau laki - laki menyukai paha perempuan? Sudah sewajarnya kan kalai - laki menyukai betis perempuan?? Dan banyak dari fisik perempuan yang disukai laki - laki. Kalau tidak tahan iman, habislah perempuan. Untuk itulah, selain otak, imbangi juga dengan iman. Hidup, sangat mubazir hanya untuk pamer aurat. Punya otak kan??? Gunakanlah otak itu. Jadilah perempuan yang ber-otak. Karena dari perempuan itulah lahir seorang anak yang cerdas bila ibunya cerdas. Berpikirlah!

Cinta

Ya, cinta memang tidak tampak. Tapi kita di sini bukan berbicara arti cinta, melainkan kepada siapa kita mencintai. Terus terang, aku masih menjadi pecinta jepang dan ada beberapa artis jepang yang ku suka. Lalu aku masuk ke dalam sebuah atau beberapa grup penyuka jepang atau artis jepang dalam sebuah facebook. Bukan tidak ada positifnya. Ya, aku menyukai karena harus ada positif dan ku tiru. Tapi aku geli setiap penggemar di dalamnya. Ya, memang itu hak mereka. Tapi tidakkah mereka berpikir apakah orang yang mereka cintai nun jauh di sana memikirkan mereka? Mungkinkah sang idola memimpikan mereka? Memang ini jelas suatu khayalan bagi para penggemar Jepang. Selagi belum pernah ke sana, itu masih ghaib. Bahkan nenekku yang pernah naik haji pun aku masih ragu kalau ia pernah ke mekkah karena aku belum pernah ke sana. Bukankah sesuatu yang belum kita capai adalah ghaib?
Nah, bicara ghaib dan idola, mengapa tidak idolakan yang selalu memikirkan kita di saat ujung usianya. Ya, Rasulullah. Walau banyak idola yang ku suka, tetap Rasulullah yang terbaik. Betapa tidak, sebegitu cintanya beliau pada kita sampai ia mengkhawatirkan kita!
Seorang senior di kampusku membuatku tersentuh akan Rasulullah. "Kita hidup di zaman ini untuk diuji apakah kita masih setia pada beliau? Masihkah kita setia pada ajaran beliau?" Ya Allah...ah...jelas saja...aku begitu rindu pada beliau...tapi begitu rupanya...sementara idola fana di bidang hiburan hanya menghibur, bukan mengajak kita ke syurga. Bukankah lebih baik mengidolakan lebih pada yang ghaib yang sudah pasti menyelamatkan kita di akhirat nanti???
Hanya itu saja, memang idolaku banyak dan rata - rata adalah laki- laki. Karena laki-laki di mataku sosok yang semangat. Ya, semoga kita tersadar tentang siapa idola kita sesungguhnya.

Tujuh Belas Agustus yang Teriris

Ku rasa, sepertinya tidak banyak yang akan ku ketik di atas kanvas elektronik ini. Aku selalu suka hari besar nasional. Agustusan? Ya, sekarang memanglah tanggal 17 Agustus. Tapi? Huh! Membosankan dari tahun ke tahun. Selalu aku berpikir, apa yang akan kita persembahkan untuk bangsa ini? Makan Kerupuk? Tarik tambang? Ya, melatih kesabaran, mengikat persaudaraan. Tapi itu hanya berlaku di tanggal itu saja. Selepas tanggal ini, kita kembali seperti biasa tanpa ada niat dan tekad untuk berubah untuk negeri ini.  Tiap tahun selalu begitu. Tau? Aku benar - benar tidak bisa mengungkapkan apa yang ku ungkapkan. Hati ini terlalu teriris. Kita seperti tidak punya hati. Kita seperti tidak punya rasa ah...entahlah...Tau tidak, kenapa?
Dua negara pertama yang mengakui kedaulatan negara kita sedang dijajah. Trus kita kita kalem adem ayem kayak gini aja? Hah...Kok gak ada ungkapan terima kasihnya ya? Malu rasanya pada mereka. Malu rasanya...maluuuu!!!
Aku mau bicara apa lagi??? Tanggal inilah kita diakui sebagai negara oleh Palestina dan Mesir. Tapi kita membuang-buang waktu dan uang untuk lomba yang entah apa yang kita petik...aku tak tau...banyak jawaban tapi hanya berlaku di tanggal itu saja. Nuraninya kemana ya??? Manusia gak cuma punya otak dan nafsu. Tapi juga otak. Pikirkan baik-baik!

Anime VS Sepak Bola

       Aku pernah dengar sebelumnya bahwa tayangan animasi dan buku komik adalah makanannya anak-anak. Kebayakan orang tua mengatakan bahwa itu santapan anak kecil. Waktu kecil aku juga berpendapat demikian. Tapi karena sering menonton berbagai tayangan animasi, aku menemukan ada banyak kartun/anime yang sebenarnya tidak sesuai dengan usia anak-anak bahkan cenderung ke dewasa. Lalu aku membaca komik, aku menemukan  banyak cerita yang tidak sesuai dengan usia anak-anak. Apakah benar animasi dan komik hanya untuk anak kecil semata?Tidak ternyata!
       Baru ku ketahui bahwa banyak anak-anak dan orang-orang yang terpengaruh karena animasi dan komik yang mereka baca. Itu berarti animasi dan komik merupakan sarana efektif untuk menyampaikan suatu hal pada masyarakat. Dan baru ku ketahui juga bahwa menurut hasil peneltian, kita adalah makhluk visual. Dengan gambar, kita bisa terpengaruh dan memahami suatu pokok masalah. Berarti sangat jelas bahwa animasi dan komik adalah sarana yang efektif untuk menyampaikan suatu pesan, bukan?
       Apakah masih berpendapat bahwa animasi dan komik hanya untuk anak-anak? Berpikirlah baik-baik.
Di jepang, animasi dan komik terbagi dengan berbagai genre dan usia jadi pesan yang disampaikan pun benar-benar mengena pada mereka. Sebelumnya, anime di jepang sempat ditolak pemerintah jepang karena dianggap sampah tapi ternyata yang dianggap sampah itulah yang membuat mereka negara jepang menjadi sorotan.
       Tapi masih tidak berlaku di sini. Aku tidak tahu kenapa. Ada yang bilang karena pemerintah tidak mau memfasalitasi para animator dan kartunis. Atau mungkin karena mereka tidak menginginkan Indonesia menjadi terlihat keren? Baiklah, memang banyak dan masih banyak yang bahkan aku mengalami sendiri saat aku mencari komik di perpustakaan kampusku, sang penjaga perpustakaan bilang bahwa komik tidak ada dan itu bacaan anak kecil. Ingin aku melawannya tapi aku merasa itu tidaklah cerdas dan efektif. Kalau memang anime dan komik adalah milik anak-anak, bagaimana dengan sepak bola? Bukankah itu sebuah permainan yang dimainkan oleh anak laki-laki?
      Lalu kenapa sepak bola digembar-gemborkan? Yang parahnya, rakyat Indonesia menjadi sok nasionalis saat negara ini masuk untuk bertanding. Aku melihat ini memalukan sekali karena sepak bola dimainkan oleh orang-orang dewasa bahkan ditonton jutaan jiwa orang. Tidak malu? Itu kan permainan anak kecil? Lagipula sepak bola tidak menjamin Indonesia ini menjadi lebih baik. Tugas mulia? Mana yang tugas mulia? Lebih mulia mana dibanding terjun langsung untuk kepentingan negeri? Bahkan sains pun seakan dianggap memancing muntah mereka saking momoknya!
       Jelas egois sekali kalau anime adalah tontonan anak-anak bila sepak bola masih dilanjutkan bahkan ditayangkan! Bahkan lebih bodoh!
       Tahukah kamu, bahwa banyak negara maju yang punya anime mereka sendiri tapi negara kita malah tidak dianggap. Yang parahnya, animator dan komikus kita 'dicuri' oleh negara lain untuk kepentingan negera itu. Juga menjual produk animasi kita ke luar negeri juga lebih menyakitkan karena dunia hanya tau itu produk negara A padahal itu hasil kita. SAKIT!

Menjadi Jantung yang Tidak Pernah Tampak


Sebenarnya aku ingin menuliskan hal ini saat Jakarta dilanda banjir besar kemarin. Poto pada postingan ini ku ambil dari sebuah majalah. Namun sebelum aku setuju dengan kata-kata yang tertera pada gambar tersebut, aku memiliki pendapat yang sama dengan gambar ini. Seperti yang sudah ku katakan sebelumnya bahwa aku punya rencana untuk menuliskan postingan ini pada saat Jakarta yang heboh dengan banjir besar beberapa waktu lalu. Apa hubungannya dengan gambarnya?
         Baik, aku ingin mengungkapkan bahwa aku muak dan bosan dengan kebanyakan kita yang hanya terus menerus menyalahkan pemerintah saat bencana atau musibah melanda negeri ini. Bukankah banjir sudah menjadi bencana tahunan? Jelas. Lalu apakah dengan memaki-maki, menghina-hina dan menyalahkan pemerintah akan menyelesaikan masalah? Jelas dan sangat jelas tidak sama sekali.
Kita sudah mengetahui bahwa jakarta identik dengan banjir. Kalau memang kerja pemerintah selalu tidak baik, apakah umpatan demi umpatan akan menyelesaikan masalah? Tidak.
          Kita manusia. Punya otak kan? Bersyukurlah karena kita adalah makhluk sempurna yang dianugerahi otak yang dapat bekerja, tidak sama dengan makhluk lain hanya murni menggunakan naluri mereka dalam hidup. Kalau kita tahu kita manusia, gunakan otak kita. Iya, benar negeri ini pemerintah sudah memfasilitasi. Tapi negeri ini bukan milik pemerintah semata. Indonesia adalah milik kita. Tidaklah kita mengurusi kesalahan-kesalahan pemerintah sana yang kerjanya tidak baik, memang kita sudah benar untuk negeri sendiri? Adakah tindakan kita yang tulus untuk negeri tercinta ini? Kebanyakan kita ini pemalas dan hanya bergantung pada yang atas padahal mereka adalah manusia biasa yang sama seperti kita.
           Bila kita mengalami musibah, baiklah mereka tidak mau melirik kita, tapi kalau tidak ada yang membantu negeri ini siapa lagi kalau bukan kita? Bukankah lebih baik kita melakukan tindakan yang nyata untuk negeri yang sebenarnya kaya ini?
           Tidak usahlah kita mengurusi yang menurut kita itu membuat kita jengkel karena yang mengetahui diri kita masing-masing adalah kita. Biarlah itu sudah menjadi urusan mereka dengan Tuhan. Nah, kita lakukan saja kebaikan-kebaikan yang bermanfaat dan dapat menciptakan keharmonisan.
           Tahu jantung kan? Dia tidak tampak. Tapi kita hidup berkat yang tidak tampak itu. Maka, jadilah seperti jantung yang terus berguna bagi pemiliknya walau ia tidak pernah tampak. Karena Indonesia ini bukan milik pemerintah saja tapi juga milik kita. Berguna bagi negeri lebih baik dari pada mencari-cari kesalahan dan mengumpati para pemimpin negeri yang tidak amanah.

Kebiasaan Pagi

Waktu belajar bahasa jepang, guruku menyuruh kami untuk menulis kalimat bahasa jepang tentang apa yang kami lakukan pertama kali ssetelah bangun tidur. Kebanyakan menulis menonton TV, tapi aku unik sendiri dengan menulis aku membaca koran. Dan saat ditukar dan dibagikan secara acak, temanku yang menerima potongan kertas dariku tentang kalimat yang ku tulis, mereka terkejut. Tidak hanya dia, bahkan hampir satu kelas mencari tahu siapa. Aku diam tapi banyak yang menduga bahwa akulah pemilik tulisan itu. Aku heran kenapa aku dipandang aneh. Aku juga menonton seperti mereka tapi kalau ada koran, aku lebih suka membaca koran. Kebiasaan ini telah membudaya sejak aku kecil waktu aku melihat ayah yang sering membaca koran dan aku selalu penasaran sampai ketagihan.
Aku baru sadar, pembaca koran seperti aku dan seusia aku memang jarang. Membaca pun bukan budaya Indonesia. Bahkan dibanding berbasa-basi, aku lebih suka membaca koran walau basa-basi adalh budaya Indonesia. Dari kecil pikiranku sudah tercipta untuk menjadi yang terbaik dalam hal otak. Makanya aku jarang bergaul walau merasa kesepian. Tapi setidaknya, membaca harus menjadi budaya kita. Jelas saja kita jalan di tempat bahkan semakin terbelakang, membaca yan jadi kebiasaan saja sudah menjadi sorotan yang aneh.
Memang, aku melihat kita 'dilarang' untuk maju di negeri sendiri. Tapi walau begitu, aku tidak mau menjadi mereka yang biasa dan umum. Aku ingin menjadi unik dan ini juga akan ada bagusnya untuk bangsa dan agama. Dan aku tak peduli orang bicara apa. Menjadi 'tuli' jauh lebih baik.

Guru Asal-asalan

Setahu kita, guru adalah yang patut ditiru bukan? Karena ia jauh lebih pengalaman dan pengetahuannya lebih banyak. Lalu bagaimana dengan guru yang asal-asalan???
Dia lulusan jurusan A tapi mengajar B. Dia tidak pernah berkecimpung di dunia A tapi mengajar pelajaran B. Jaka sembung ya gak nyambung!
Bukan ahlinya kenapa dia yang dipilih??? Pantes muridnya kayak gitu...
Saat bertanya, bukan dijawab malah bingung bahkan marah. Parahnya Ada yang cuma masuk kelas dan meringkas. Tidak pernah mengajar. Eh? Korupsi ding? Iya ding...dia kan tugasnya ngajar. Bukan nyuruh murid untuk meringkas. Ada yang lebih parah lagi. Datang, duduk, diam dan dapat duit???Ya, duit sebagai guru. Fungsinya sebagai guru dimana? aku bicara pengalaman loh. Bukan fitnah. Ini pun bukan aku saja yang muridnya tapi ada teman-teman sekelasku yang lain. Lalu, dimana kita mau pintar???? Kenapa dia bisa lolos jadi guru??? Itu pertanyaan besar!
Ya...saya hanya bisa berdecak sambil menggeleng-geleng kepala. Itu sama saja membuang-buang waktu. Cobalah berpikir untuk kemajuan bersama. Iya, pemerintahnya emang begitu. Trus mau apa? Kita juga ikut-ikutan begitu? Yang penting mereka sudah tahu dan biar Tuhan yang turun tangan nantinya. Kita ini ber-Tuhan. Mintalah pada Tuhan disertai dengan usaha-usaha kita. Allah sangat menghargai usaha hamba-Nya. Kalau kita mau berpegang tangan demi kemajuan negeri, Allah tentu tidak buta. Dia Maha Melihat. Kita guru misalnya. Kita sudah dipercaya sebagai guru. Itu artinya bertanggung jawab atas anak-anak indonesia yang mempercayai kita. Kalau kita seorang guru justru berbuat asal-asalan dalam mengajar, Allah tentu Maha Melihat. Pertanggungjawaban di akhirat nanti. Bagaimana kita saat kita menjadi guru. Apakah kita sudah berusaha semaksimal mungkin? Memang, manusia tidak ada yang sempurna. Tapi kalau tekad dan usaha kita kuat, itu sudah terhitung pahala. Hiduplah seratus persen semampu kita sekuat kita. Karena segala yang asal-asalan tidak ada nilainya. Mungikin, wajar kalau murid-muridnya atau remaja-remaji kita gak karuan. Karena ia belajar dari gurunya yang asal ngajar.

Budaya Memaafkan yang Keliru

Aku tidak sependapat bahkan menurutku itu hal yang sangat keliru. Apanya yang keliru?Ya, salah satu budaya Indonesia. Indonesia dikenal sebagai rakyat yang ramah dan pemaaf terlebih bila terlambat. Namun aku yakin hal itu budaya memaafkan yang seperti itu tidak akan berlaku bila dipraktekkan di dunia kerja yang formal. Dalam hal janji pun begitu. Bila sudah berjanji, kita kerap menggunakan kata 'In Sya Allah' tapi rata-rata pengkhianat. Aku kecewa sekali. Dia sudah menyebut nama Tuhan tapi berkhianat. Tampak sekali kalau dia tidak niat menepati janji yang sudah ditetapkan sejak awal. Namun, ada orang jepang yang tidak perlu ku sebutkan namanya justru itu letak 'manusia' kita sebagai manusia. Ya, budaya memaafkan memang baik terlebih itu sudah membudaya pada diri kita. Tapi maaf bila dilakukan berulang-ulang, apakah itu bisa untuk dimaafkan. Tak usah berbohong pada hati. Mulut kita memang bilang 'tidak apa-apa' tapi hati kita?Siapa yang tahu. Banyak yang tidak rela setelah diadakan diskusi di kampus. Jadi mengatakan 'maaf' begitu saja ku rasa itu bukanlah sikap yang bijak. Minta maaf sekali, lalu berjanji pada diri sendiri bahwa kita tidak akan mengulanginya lagi.
Dalam hal terlambat juga begitu. Selalu bilang, maaf maaf dan maaf bila terlambat. Dan alasannya klise. Memang, akhir-akhir ini menemukan pribadiku yang buruk. Aku benci diriku yang sekarang yang tidak seperti dulu yang disiplin dan sangat menghargai waktu. Dan atas terjadinya insiden dan kejaian-kejadian yang ku alami, aku sempat drop hingga aku tidak bisa menentukan hidupku hingga aku tidak bisa disiplin lagi. Dan tiba saatnya aku mendapat dosen yang disiplin, aku jadi bisa datang lebih awal walau awalnya ngedumel di dalam hati. Aku bisa merasakan rasanya jadi mereka yang tidak disiplin. Sekarang aku harus kembali menjadi disiplin lagi, menjadi diriku. Dan aku siap menerima risiko bila aku harus dihukum andai keterlambatan ku lakukan. Itu risiko. Berani berbuat, berani bertanggung jawab. Dan seharusnya berterima kasih pada dosen itu bukan malah mencelanya. Karena didikannya yang cenderung pada kedisiplinannya. Jadi, ku rasa memaafkan karena terlambat ku rasa tidak bisa ditolerir bila terjadi dua kali. Kita harus latihan di negeri sendiri bila ingin mencicipi angin di negeri orang. Terserah orang bilang apa, nasib ada di tangan kita dan bukan di tangan mereka. Bila ingin menjadi pribadi yang baik, hargai waktu dan tempatkan kata 'maaf' pada tempat yang seharusnya.

Jilbab = Hati ???

Kadang kalau kita kesal dengan orang yang kebetulan berjilbab, kita malah kesan 'menyalahkan' jilbabnya bukan orangnya. Malah ada yang bilang 'Percuma pake jilbab kalau hatinya gak diperbaiki!' atau 'Mending dilepas deh jilbabnya dari pada hatinya gak berjilbab!'
Loh???Horor bener???
Hati berjilbab???
Dibedah dulu dada kita supaya hati bisa dijilbabin???Tentu tidak. Mereka mengira kalau harus yang berhati baik yang boleh berjilbab. Padahal jilbab dan hati adalah dua sisi yang berbeda.
Memang, banyak yang sudah menulis tema seperti ini tapi saya mengangkatnya seperti mengajak anda berbicara sebagai teman.
Sebagai wanita muslim, memang sudah seharusnya menutup aurat ini dan itu. Kalau tahu aturannya, mengapa dilanggar? Karena akhlaknya yang kurang baik???Hmmm..berjilbablah dulu maka akhlak akan mengikuti. Lagipula wanita muslim berjilbab bukan karena dia baik tapi karena memang sudah kewajibannya. Aturan ini tentu dibuat untuk keselamatan wanita itu sendiri.
Bicara wanita berjilbab yang akhlaknya buruk, tidak baik sekali kalau kita mengkait-kaitkan jilbabnya. Nasihati dia kalau perlu bimbing dia supaya dia mau menjadi yang lebih baik. Bila Ia menolak, doakan saja dia. Biar bagaimana pun dia saudara kita. Sesama muslim itu harus saling tolong-menolong. Dan ini akan menjadi ladang amal bagi kita sesama muslim khususnya yang wanita. Berlomba-lombalah dalam kebaikan, niscaya tidak akan ada yang sia-sia di dunia ini. Aamiin.

Bangga Menyebut Diri 'Jablay'

Di dunia kuliah ini, aku banyak menemukan yang namanya pergaulan bebas. Bebas, bahkan bebas seperti pergaulan bebas yang anda pikirkan. Jadi, saya harus pandai memilah-milih pergaulan yang baik untuk saya serap. Semua yang mini-mini yang biasanya ku lihat di TV, kini ada di kampus. Bahkan mereka sangat bangga memamerkannya di depan umum. Menjuluki diri mereka sendiri dengan julukan yang buruk pun mereka bersedia. Semisal, bukan misal malah tapi memang fakta. Salah satu temanku bangga dengan julukan 'jablay'nya. Astaghfirullahaldzim. Remaji atau anak muda perempuan Indonesia sudah rusak! Ya, memang tidak semua tapi hampir semua begitu. Kita orang timur, orang Indonesia bahkan kita ini muslim, tidak tampak sama sekali jiwa nasionalisnya, tidak tampak kecintaannya pada agamanya. Mereka lebih suka menjual fisik mereka ke lawan jenis. Jadi, tidak salah juga kalau banyak laki-laki yang berpikir porno, perempuan pun malah memberikan kesempatan untuk mencicipi mereka. Jangan pernah menyamakan diri kita dengan bangsa lain. Cara kita maju lain dengan caranya. Boleh kita tiru yang baik dari bangsa lain, tapi apa yang tidak sesuai dengan kita terlebih melanggar norma agama, maka jatuhlah kita. Kita mayoritas Muslim!
Ingatlah, bahwa dibalik kesuksesan seorang pria ada wanita di belakangnya. Jadi sama sekali tidak salah jika kalian meragukan akan kemajuan Indonesia karena para putri-putrinya tidak memberikan apa-apa untuk bangsanya dan segelintir yang mau menyedekahkan apa yang bisa Ia sedekahkan untuk negaranya.

Indonesia Primadona

Kabar yang beredar dari dunia maya banyak menuliskan bahwa negara-negara sedang menyadap Indonesia. Mungkin hal ini tidak terpikirkan oleh remaja kita kecuali yang benar-benar memikirkannya. Hal ini disebabkan mereka terlalu sibuk dengan dunia mereka masing-masing dan ada pula yang sibuk dengan idola luar negeri mereka yang jelas-jelas tidak memikirkan mereka. Aku tidak bicara sembarangan. Ini dari kacamata beranda facebook ku. Memang tidak salah kita mengidolakan seorang entertainer. Tapi bukan berarti kita acuh tak acuh pada negara sendiri hanya karena ada pihak tertentu yang lebih wajib memikirkannya dan ada pula yang beranggapan kalau negara ini tidak perlu dipikirkan. Sesat sudah remaja masa kini. Biar bagaimana pun Indonesia ini primadona. Biar kata pemerintah iya nggak iya nggak mengurus rumah tangga negara ini. Tapi kalau bukan kita para generasi muda, siapa lagi?Justru itulah dengan banyak pemimpin yang kiranya tidak mampu, kita harus memampukan diri supaya tidak malu menjadi bangsa sendiri. Sejak dulu, Indonesia ini sudah banyak yang melirik tapi kita sang pemilik sibuk memuja-muja bangsa lain yang diam-diam punya rencana buruk pada negeri ini. Ini bukan suuzon. Tapi sejenis WASPADA. Sungguh, Indonesia ini negara yang aman biar rakyatnya begana begini, Indonesia ini yang teraman dibanding negara lain. Maka dari itu para negara lain berburu membuat kekacauan supaya mereka mudah memasuki dan memiliki Primadona ini. Perlu diketahui, Indonesia ini mirip surga loh. Jadi, SANGAT DISAYANGKAN kalau Primadona ini dilepas begitu saja.
Jadi, cobalah berpikir lebih jauh lagi tentang pentingnya mempertahankan negeri ini. Tidakkah kau berpikir betapa susah payahnya para pejuang memperebutkan tanah surga ini dari para penjajah???

Hebatnya Sains dan Hebatnya Mimpi/Impian

Sama sekali aku tidak menghina dunia persepakbola Indonesia. Boleh dibilang, aku masih suka  dengan futsal atau sepakbola. Hanya saja, aku menyayangkan para pendukungnya. Mereka terlalu fanatik. Memang sepak bola adalah tugas mulia untuk mengharumkan nama baik bangsa. Tapi itu tidak menjamin akan kemajuan suatu bangsa. Tiap ada pertandingan sepak bola selalu saja begitu. TV pun penuh dengan berita sepak bola. Padahal kemajuan suatu bangsa bukan dilihat dari dunia olahraganya tapi sainsnya. Sebenarnya aku suka sekali segala yang berbau tentang pengharuman nama baik bangsa. Tapi tiap pertandingan selalu begitu.  Giliran ada olimpiade sains, TV hanya menyorot kepulangannya saja dan apa-apa saja yang dibawa pulang dari hasil olimpiade. Padahal kalau kita mau tahu proses dibalik kesuksesan mereka, kita pasti akan terharu. Tapi mungkin hanya beberapa saja, karena kebanyakan kita menjadikan momok dunia hitung-menghitung itu. Memang, itu wajar. Tapi di sanalah letak keberhasilan suatu bangsa disamping bagusnya paradigma suatu bangsa yang bagus untuk kemajuan bangsanya.Kalau kita mau, semua pasti bisa dilakukan. Dan kalau kita mempercayai pepatah ajaib "Dimana ada kemauan, di situ ada jalan", Allah pasti akan membantu kita. Semua berawal dari mimpi. Tidak baik meremehkan mimpi sekalipun mimpi yang tinggi sekali pun. Kalau kata orang 'Gak usah mimpi yang tinggi-tinggi, ntar jatohnya sakit', abaikan. Jikalau kita berfokus pada kalimat rendahan itu, kita jadi ragu untuk melangkah karena kita sudah pasrah. Semisal jepang deh. Negeri itu sungguh hebat. Hanya berawal dari imajinasi, mereka berusaha mewujudkannya tanpa kenal menyerah. Apalagi kita punya Allah. Selama tujuan kita baik, Allah pasti akan mendukung kita. Maka berprsangka baiklah pada Allah. Mungkin saat kita berusaha menanjak mimpi itu, kita pernah jatuh tapi Allah selalu ada untuk kita. Kita tidak pernah sendiri selaghi kita masih percaya dengan rencana Allah. Khusnnudzonlah kunci kita sebagai anak muda supaya ingin maju. Yang namanya hidup, pasti ada sakit, airmata dan senyumnya. Untuk itu tidak ada alasan lagi untuk kita menolak fisika. Lagipula Allah menghitungnya sebagai pahala walau kita berusaha tapi kita tetap tidak bisa juga. Hal ini tidak hanya ditujukan untuk sains dan fisika saja tapi juga yang lain.
       Susunlah mimpi kita, ukirlah. Tapi biarkan Allah mengganti satu atau beberapa rencana kita untuk diganti dengan rencana-Nya yang lebih baik. Rencana Allah itu jauh lebih indah dari yang kita duga. Percayalah.

Postingan ini untuk memperingati Hari Sumpah Pemuda untuk anak muda yang ragu bermimpi, maka dari sekarang harus berani bermimpi!

Budaya Jalan Kaki

Temanku berdecak kagum karena aku berjalan kaki dari rumahnya ke rumahku yang beda kelurahan. Aku hanya menganggap biasa, sebab kebanyakan orang memilih berkendaraan motor. Mungkin karena aku tidak punya motor juga, makanya aku jalan kaki. Sekalipun aku punya uang untuk naik angkot, aku lebih suka jalan kaki. Karena ku pikir jalan kaki lebih sehat. Kadang aku bersyukur karena belum pernah punya kendaraan sampai sekarang. Pernah aku sudah lama tidak jalan kaki, sekalinya aku jalan kaki jarak jauh, kaki ku pegal sekali. Itu artinya kaki ku harus dibiasakan berjalan kaki supaya tidak pegal dan sakit saat memulai. Budaya itu ku terapkan sejak aku SD yang jarak SD ku dan rumahku jauh sekali sampai orangtuaku heran. Padahal mereka bercerita zaman mereka itu orang terbiasa berjalan kaki bahkan hitungan kilometer. Hal itu menyebabkan tubuh mereka tetap sehat. Dan aku ingin menerapkannya pada diriku sendiri. Mungkin karena kebanyakan anak muda sepertiku lebih suka berkendaraan dari pada jalan kaki, makanya orangtuaku memandangku heran. Sama sekali tidak ada rasa malu kalau pun aku berjalan kaki sementara yang naik motor. Terkadang aku malah miris dengan anak muda bahkan anak SD zaman sekarang. Mereka dibiasakan oleh orangtuanya mengendarai sepeda motor. Selain karena tidak punya SIM/STNK dan dibawah umur, mereka juga masih terlalu pemula untuk mengendarainya. Terlebih hanya lain gang saja, mereka naik motor. Kadang aku tertawa sendiri di dalam hati, "Dekat saja masih naik motor???". Ku rasa berkendara itu baiknya kalau memang jauh sekali. Kalau masih jarak beberapa rumah saja, kenapa harus naik motor?
Asal kalian tahu, jepang sebagai negara penghasil kendaraan terbanyak saja malah membudayakan jalan kaki di negerinya sendiri. Mereka hanya memproduksi dan hasil produksinya itu dikirim ke luar negeri. Lah kita lebih bangga membeli kendaraan, padahal jalan kaki itu jauh lebih baik. Dan perlu diketahui, salah satu negara eropa malah memperbanyak produksi sepeda dibanding mobil karena mereka mulai sadar akan pentingnya menjaga lingkungan. Jadi tidak perlu ada alasan untuk gengsi karena tidak memiliki kendaraan. Cobalah berpikir cerdas dan meniru yang baik-baik dari luar negeri adalah baik kalau kalian memang ingin menirunya.


Malu Berbatik

Dari adikku bilang kalau ada temannya yang malas memakai batik. Lalu kemarin saat berkumpul dengan teman-temanku yang dari mereka ada yang bercengkrama tentang batik yang katanya kalau semua orang pakai batik seakan PNS. Nada suaranya pun ada kesan 'enggan'. Di dalam hati aku nyengir. Sebab baru-baru ini aku membuka facebook tentang artis jepang yang sangat mencintai Indonesia atau bisa dikatakan IndonesiaLover. Ia pun bangga mengenakan batik. Lagipula, kimono pun 'kalah' oleh batik. 
Batik itu sudah menjadi identitas bangsa. Sudah sepatutnya kita menjaganya. Bangsa lain saja bangga kenapa kita yang punya malah bertolak belakang?
Mungkin bosankah?Malukah?
Tapi coba kita tengok ke luar negeri. Negeri ini kadang lucu. Di dalam dihinakan, di luar malah dapat penghargaan. Tidak hanya batik, beberapaidentitas bangsa linnya juga demikian. Apalagi kita anak muda. Yang muda yang meneruskan. Kalau bukan kita, siapa lagi?orangtua?Kitalah penerus mereka!!!

Rendahnya Daya Saing

       "Ayah...ayah...nilaiku lebih besar darinya..." kata ku pada Ayah waktu SD. Namanya juga SD, jadi pamer bin norak sedikit. Dan wajar kalau norak ke orangtua. Ayahku tentunya bangga karena aku mampu mengalahkan temanku yang langganan juara kelas, sementara aku langganan juara tiga.
Tak disangka, teman dekatnya si juara kelas memandangku sinis dan mungkin menganggapku jahat.
Sebab di kelasku ini ada tiga geng yang terbentuk. Perempuan terbagi menjadi dua, dan laki-laki menyatu semua dengan ketua geng si anu. Nah, salah satu geng perempuan diketuai oleh juara kelas.  Setiap belajar, semua anggota gengnya menyerahkan hasil jawaban ke ketua geng dan kalau nilai ketua geng jelek, maka anggota geng akan merasa sedih dan saling merasa bersalah. Maka, wajar bila ada anggota gengnya sinis dan memandangku jahat karena aku senang bisa mengalahkan nilai si juara kelas. Itu sangat aneh, tidak hanya bagiku tapi bagi dunia pendidikan. Ya, selain belajar, kita juga memang akan berteman di kelas. Tapi bukan berarti kita kehilangan rasa iri positif itu. Benar-benar tidak ada daya saingnya sama sekali. Tidak hanya terjadi di SD, tapi juga sampai ku kuliah, aku melihat teman-temanku ada yang seperti itu. Baiknya, kita itu harus individualist kalau belajar. Jangan kita marah kalau kita tidak diberi contekaan, tapi marahlah atau kecewalah bila kita tidak diajar atau tidak diberi ilmu. Dengan menyontek, apa yang kita dapat selain nilai yang jelas bukan hasil kita. Selama hampir tiga semester ini aku tidak pernah mendapat peringkat apa-apa di kelas. Nilaiku lebih buruk dibanding nilai-nilaiku semasa sekolah. Mungkin karena pelajaran-pelajaran yang masih sangat baru bagiku terlebih latar belakang SMA ku berbeda jurusan dengan jurusan yang ku pilih di perkuliahan. Walau demikian, aku tetap merasa iri atau 'kesal' kalau ada yang juara kelas. Itu normal. Lagipula kita bersaing secara positif dan itu alami. Justru sangat aneh kalau ada teman yang memandang si juara kelas sebagai si pinter dan si teman ini tidak ada niat untuk menandingi nilai si juara kelas. Mungkin ini salah satu mengapa Indonesia hanya jalan di tempat. Murid-murid tidak memiliki daya saing sama sekali. Malah akan menadang sinis dan menjauhi orang yang tidak mau berbagi dalam ujian alias menyontek. Aku memang pernah menyontek. Tapi aku tidak pernah marah dan memaksa calon pemberi contekan karena itu hak dia, dia yang berusaha jadi suka-suka dia. Justru sebenarnya aku sangat malu khususnya pada diriku sendiri karena aku tidak mampu mengerjakannya dan ternyata aku menyalin dari apa yang teman kerjakan. Itu seharusnya yang dimiliki tiap orang secara normalnya.
Mungkin masih jarang anak-anak Indonesia yang demikian. Karena rata-rata dari kita hanya mengincar nilai, ijazah dan selesai. Seakan tidak punya tujuan hidup. Memang ada orang yang akhirnya menyadari di tengah jalannya. Tapi tidak sedikit dari kita yang akhirnya memang mengejar nilai yang penting selesai.
Adakah dari kita yang menyadarinya???
Aku harap kita sadar siapa kita. KITA INI ANAK MUDA!!! BUKAN BOCAH INGUSAN!!!

Penyalahgunaan 'Insha Allah'

Banyak dari kita yang mudah menyebut 'Insha Allah' untuk menyatakan perjanjian. Tapi hampir semua hanya 'Insha Allah' di mulut dan nytanaya banyak yang berpaling dari apa yang dijanjikan. Bahkan ada yang mengucap 'Insha Allah' dengan wajah senyum-senyum tanda keraguan. Tentu si teman akan bete. Maka banyak dari kita 'Jangan Insha Allah, tapi harus iya!'. Penggunaan Insha Allah itu sendiri berarti kita menyanggupi atas izin Allah. Sementara kita melalaikan dengan menyalahgunakannya dan banyak yang tidak suka dengan kata 'Insha Allah'. Kalau memang ragu, tidak usah 'Insha Allah'. Sebab, kita juga di dalam dua suku kata itu, kita juga berhadapan dengan Allah. Alangkah baiknya, kita yang anak muda jangan mudah terkontaminasi budaya buruk ini. Mungkin ini sepele. Tapi, semua yang besar, pasti dimulai dari yang terkecil bahkan mungkin sepele. Kita yang muda, kita yang berubah kalau mau maju, tidak baik saling menunjuk untuk saling menyalahkan.

Indonesia Bukan untuk Dicibir

Mungkin tidak sedikit diantara kita yang mencibir bumi pertiwi ini. Namun apa salahnya hingga mendapat cibiran???Karena korupsi? karena ketidakseriusan???
Tadi, aku bicara pada seseorang. Aku mengandai coba Indonesia seperti negara *sensor* (tidak hanya negera yang ada di pikiran kalian, tapi juga negara lainnya yang mampu memberdayakan ekonominya). Lalu, seseorang itu malah mencibir,"Indonesia mah gak serius!". Ya sih...tapi tidak usah ditunjukkan seperti itu juga kali. Apalagi kalau sampai kalau ada anak yang polos melihatnya. Tentu akan ter-mindset ke otak anak itu kalau tanah air nya memang negara yang ya kerjanya membuat rakyat kecewa terus. Lalu, bagaimana Ia akan mencintai negaranya sendiri kalau sudah dididik demikian?Yup. Sebagai warga yang mengerti negeri ini, seharusnya tidak perlu menunjukkan rasa tidak senang kita. Apalagi kalau si anak berkeinginan ingin pindah negara saja yang dirasa tidak mengecewakannya, lalu seseorang tadi bilang tidak ada yang lebih nyaman dibanding tinggal di Indonesia. Nah, anak ini pasti bingung dong??? "Nih orang menghina Indonesia mulu, tapi katanya tidak ada yang lebih enak dibanding tinggal di Indonesia?" pasti ada pikiran seperti itu.
Walau kita tahu negara ini ya begitulah...tapi kita harus tetap menunjukkan yang baik-baik ke si anak. Kalau si anak terlanjur mengetahui yang buruk, maka harus diberi solusi yang cerdas untuknya sebagai generasi bangsa, bukan malah tambah menghina. Ini Indonesia loh. Indonesia ini bukan untuk dihina dan dicibir. Kalau ada yang membuat kita tidak sreg, cibiran bukanlah solusi. Biar bagaimana pun, banyak negara lain yang menginginkan negara ini entah dalam bentuk apa pun caranya. Apa kita rela negara kita dimiliki bangsa lain???Kita tuan rumah, kok malah pendatang yang berkuasa???
Lagipula, ada banyak cara untuk menunjukkan rasa cinta kita pada negeri ini. Tidak melulu dengan demo dan unjuk rasa. Seperti yang ada di iklan, Talk Less Do More!!!
Diam itu emas. Jadikan diri kita bermanfaat walau banyak orang yang tidak menyadari atau mengetahuinya. Seperti Jantung yang terus berdetak tapi tetap membuat hidup walau kita tidak menyadarinya.

Budaya Buruk yang Tercipta di Sekolah

Dari sekolah, anak Indonesia sudah 'dilatih' untuk tidak menghargai orang lain. Mengapa?
Semisal menyontek. Mungkin sudah menjadi kebiasaan kita anak Indonesia bahkan sudah menjadi budaya turun temurun di sekolah. Kalau saya pernah menonton di TV, menyontek itu budaya calon koruptor. Ternyata tidak hanya itu saja. Menyontek juga wujud kita kepada teman terhadap tidak pentingnya sebuah penghargaan. Ada yang sudah terbiasa hingga merelakan jerih payahnya dicontek orang, namun tidak banyak yang menahan sakit hati karena teman-temannya dengan santai menyalin hasil kerjanya.
Ada pun yang pelit contekkan, maka Ia dikucilkan. Bukankah itu hal yang sangat bodoh????
Mengapa kita harus mengucilkannya???Itu hak dia mau memberi contekan atau tidak! Yang kerja dia! kenapa kita yang ngotot?! Yang ada, kita bodoh! untuk apa kita marah??? Namanya saja belajar, bukan menyontek! itu pesan yang sering didengungkan di sekolah.
Yang lebih parahnya lagi, saat jelang UN seperti yang pernah terjadi di bangku SMA, guru-guru malah menyuruh murid yang pintar untuk tidak pelit saat UN!
Guru macam apa itu????Bukankah guru itu teladan kita di sekolah???
Yang namanya ujian, seharusnya dilarang keras menyontek!
Jelas saja kebanyakan dari kita tidak menhormati pahlawan....TEMAN SENDIRI SAJA TIDAK KITA HARGAI!!!
Menyontek itu sama saja tidak menghargai teman! Tidak menghargai hasil kerja teman!
Ada pun teman yang memberi contekan, dia malah membodoh-bodohi temannya karena membiarkan temnnya malas. Akankah kita akan menjadi menjadi negara maju sementara budaya saling menghargai saja tidak ada!

About Me

Foto Saya
Andeke Parsi
Lihat profil lengkapku