80% Lingkungan sangat mempengaruhi kita dan 60% pengalaman sangat membantu kita. Itu artinya kita harus melakukan tindakan yang nyata atau praktek untuk meningkatkan kemampuan kita. Dan bila belum terbiasa, maka lakukan 40 hari berturut-turut. Awal merupakan sulit. Namun kita bisa karena terbiasa...
Ganbatte!
Luruskan orientasimu!
Saling mengingatlah sesama teman
Satukan mimpi kita! Yosh!

Da'i Sejuta Umat

Ada satu kalimat yang masih teringat olehku ketika Alm. Zainuddin MZ wafat. Yaitu, "Keuangan Yang Maha Kuasa". Benar saja. Rakyat Indonesia ini tampak sudah tidak mengimani sila Pancasila yang Pertama. JUstru mereka malah terbawa kapitalis yang mengakibatkan diri mereka menjadi Keuangan Yang Kuasa, bukan lagi Ketuhanan Yang esa. Apakah benar uang itu adalah dewa?

Hm...
Mungkin karena aku telat kali ya. Aku baru bisa 'melihat' beliau ketika beliau telah wafat. Ku kira Ia sama dengan politikus yang lain. Karena di mata ku, politikus itu hampir tidak ada benarnya. Namun, aku hanya baru bisa 'melihat' Da'i sejuta Umat ini. Hmmm...

Kata-katanya itu, memang kata-kata yang mudah dicerna dan indah untuk didengar. Rasanya aku menyesal atas kematiannya itu. Dan entah mengapa, aku merasa ingin menangis mendengar berita kepergiannya. Di dalam hati, aku selalu berucap di dalam hati keetika meenonton kepergiannya di TV, "aku akan menyusulnya."
Aku bisa merasakan kematian itu semakin dekat. Terlebih kiamat juga semakin dekat.
Bila melihat perjalanan kematiannya, Beliau wafat ketika pulang dakwah. Aku merasa senang. Karena itu akan menjadi syahid. Terpikir olehku, apakah mungkin aku akan menjadi syahidah?

Hmm...umur seseorang, hanya Allah yang Maha Mengetahui...

Penikmat Kemerdekaan

Aku miris melihat remaja kini yang menghamburkan waktu mereka untuk ke sia-siaan akibat pengaruh barat. Mereka lebih bangga dengan kebaratan. Apakah tidak bisa terpikir oleh mereka, betapa sulitnya pahlawan kita susahnya memperjuangkan kemerdekaan negeri ini?
Mereka hanya tahu enaknya saja!
Padahal sebenarnya mereka tidak menyadari kalau mereka sedang di jajah, khususnya secar mental. Dan itu lebih parah.
Rasanya tidak adil. Pahlawan kita yang susah payah perjuangkan negeri ini, mereka malah mati terbunuh, adapun yang hidup hingga kini tapi tidak pernha dilirik pemerintah.
Sementara penghuni negeri ini yang sekarang, hanya bisa lehanya saja!
Dasar tidak tahu terima kasih!

Kota Tua


Mengerikan, bukan?
Aku tidak bisa membayangkan bagaimana nasib pejuang kita pada zaman dahulu. Melihat patung ini saja, aku sudah merindingan. Rasanya aku ingin membalas meraka saja. He...
Kebenaran harus di tegakkan. Jangan sampai kita di jajah, eh kita balas menjajah juga. Oke!
Persaudaraan adalah lebih penting!

Pelajar Kolokan

Bukannya sombong. Aku juga termasuk pelajar yang takut dengan guru yang galak. Namun saat aku sedang butuh, mau tidak mau aku harus menemui guru itu. Dan bukannya sombong pula kalau aku ini juga termasuk orang yang menyukai guru yang galak karena umumnya guru yang galak itu sukses mengajari murid-muridnya. Namun hal itu berbeda jauh dari pendapat teman-temanku yang alergi dengan guru galak. Karena selain galak, guru galak itu rentan membuat kita sulit untuk saling menyontek. Ole karena itu banyak diantra kita yang lebih menyukai guru yang lemah lembut tapi yang membuat murid-muridnya jadi terjerumus karena sering menyontek. Padahal menurutku, Indonesia ini butuh guru yang memotivasi. Dan umunya guru yang dimaksud adalah guru galak. Tapi bukan berarti guru yang otoriter dan lebih banyak membuat murid jadi tertekan.
Mungkin pada awalnya kita akan tertekan dengan guru galak. Akan tetapi kalau kita mau belajar, aku yakin guru itu mau memberi toleransi.
Terkadang saya miris dengan pelajar-pelajar Indonesia masa kini yang lebih mengandalkan contekan. Padahal hal itu hanya menjerumuskan mereka. Makanya banyak diantara mereka yang menyukai guru yang cuek sehingga mereka bebas berbuat semaunya.
Lagipula, untuk apa kita membenci guru yang galak?Seharusnya kita bisa berpikir. Ya, pelajar-pelajar kini pada kolokan. Mereka maunya yang enak-enak. Bolehlah enak-enak, tapi bukan berarti untuk keterusan. Karena kita hidup di dunia yang butuh pengorbanan. Kalau kita hanya mengenal huru-hara, tentulah kita tidak akan berhasil ke depannya.

Ada yang Musti ditiru dari Negeri Samurai

Kadang aku iri dengan Negeri Samurai. Mereka begitu antusias memamerkan kebudayaan mereka ke hadapan dunia. Padahal budaya mereka tidak sebanyak budaya kita. Kita yang kaya raya jarang memamerkan dan terlihat tidak mensyukuri dengan kebudayaan kita. Malah kebanyakan dari kita yang lebih bangga dengan produk luar termasuk kebudayaan luar. Tau tau ada kebudayaan kita yang di klaim negara orang, kita hanya bisa mengomel ria.

Jujur, aku memang menyukai kebudayaan Jepang dan Negara nya yang membanggakan kebudayaan mereka sendiri. Tapi dibanding Indonesia, aku yakin kalau Jepang kalah banyak dan keren dari kita kalau kita mau dan berusaha. Ku rasa, kita memang harus bisa meniru Jepang dengan yang satu ini yaitu senang dengan kebudayaan sendiri yaitu dengan cara melestarikannya dengan salah satu caranya adalah mempraktikkannya sehari-hari, tapi yang simpel-simpel aja.

Kesimpulannya, kita jangan lupa dengan kebudayaan kita yang sebenarnya sangat bagus dan diincar negara orang ini. Kita harus melestarikannya kalau perlu saingi si 'sakura' itu. Dan buktikan pada dunia bahwa sebenarnya kita itu kaya!

Pakaian Jahiliyah

Sumpah loh aku kasihan baget sama kaum adam di masa kini. Mereka begitu sulit untuk memelihara mata mereka karena aurat lawan jenis mereka kemana-mana. Hingga hal itu sempat dicurhatkan oleh kaum adam sendiri di blognya, betapa tersiksa matanya karena harus melihat sesuatu yang tidak semestinya.
Betapa tidak?
sekarang, suah masanya para perempuan mengenakan hotpants-lah, rok mini-lah, baju dengan ditampakkan belahannya-lah. Seharusnya mereka itu harus menjaga perhiasan-perhiasan mereka itu bukan untuk dijadiakn tontonan gratis kaum adam. Bukankah itu sudah tampak kalau emang perempuan dulu yang mancing-mancing?Jadi jangan salahkan kaum adam kalau-kalau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan kamu hawa. Wajar aja pemerkosaan terjadi!Wong wadon yang mancing!
Tahu tidak?hal itu sudah membuktikan bahwa sebgian dari kita yang perempuan sudah minim akan moralnya. Pantas saja waktu zaman jahiliyah, setiap bayi perempuan langsung dikubur hidup-hidup. Karena perempuan dianggap aib. Lihat saja besarnya, mereka memamerkan auratnya dan tidak bisa menjaga auratnya itu.
Nah sekarang, aturan kan sudah ada. Dan perempuan itu diwajibkan untuk menutup auratnya agar tidak terjadi perzinaan. Tapi tetap saja, anak masa kinijustru memilih cara berpakain mereka yang memancing kejahatan. Emang hal itu suatu tren yang merusak moral.

Multipurpose our false?

Now is the season hotpants pants. Yesterday was the season pencil pants. All that I think somewhat strange. Want to know why? Because we wants the half-middle. We have already determined how we dress is good and right, but instead wear clothing that 'not feasible'. But we do not want that without clothes (not dirty).

Try imagine, if we imagine the skull, we are afraid. But if the love of leather, we do not keep well. And without us knowing it, we're already in amanahkan to keep our bodies each.

Seeing the skull, but we fear to see people dress modestly plus hijab, even in gunjingkan. Awry yes!
Do not have a skin, we look so haunted, but if given a skin, we do not keep it.

Try contemplate.

About Me

Foto Saya
Andeke Parsi
Lihat profil lengkapku